Literasi Digital sebagai Fondasi Budi Pekerti: Menyaring Informasi, Menjaga Kemanusiaan

Daftar Isi

Lensa Spiritualitas | Artikel #24 dari Seri Lensa Literasi

Ilustrasi tangan memegang smartphone dengan latar belakang simbol-simbol etika digital seperti perisai, hati, dan tanda centang verifikasi, mencerminkan integrasi teknologi dan nilai kemanusiaan.

"Di balik setiap layar, ada hati yang berdetak. Di balik setiap klik, ada pilihan untuk memanusiakan atau melukai." (Refleksi Etika Digital). 

Pada artikel sebelumnya, "Komunitas yang Menumbuhkan: Mengapa Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Lingkaran Kecil?", kita memahami bahwa perubahan yang bertahan lama selalu berawal dari lingkungan yang saling mendukung dan menumbuhkan karakter. Namun, ketika sebagian besar interaksi manusia berpindah ke ruang digital, karakter tersebut kembali diuji. Informasi datang tanpa henti, opini berseliweran dalam hitungan detik, dan setiap orang dapat menjadi penyebar berita hanya dengan satu sentuhan layar. Melalui Lensa Digital, kita diajak menyadari bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan menjaga akhlak, nalar, dan tanggung jawab ketika berinteraksi di dunia maya. 

Kemudahan mengakses informasi membawa manfaat yang luar biasa, tetapi juga melahirkan tantangan baru. Kementerian Komunikasi dan Digital RI (2025) melaporkan bahwa penyebaran hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian masih menjadi persoalan serius yang memengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Berbagai informasi yang tidak terverifikasi mampu memicu perpecahan, menumbuhkan prasangka, bahkan merusak kepercayaan antarwarga. Penelitian dalam Computersin Human Behavior (2025) juga menunjukkan bahwa individu yang memiliki literasi digital rendah lebih mudah terpengaruh informasi palsu sehingga mengalami peningkatan kecemasan dan menurunnya kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, mereka yang terbiasa melakukan critical filtering atau menyaring informasi sebelum mempercayainya cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih sehat.

Melalui Lensa Digital, kita juga perlu memahami bahwa media sosial tidak selalu menampilkan informasi yang paling benar, melainkan yang paling mampu menarik perhatian. Algoritma dirancang untuk memprioritaskan konten yang memancing emosi karena lebih banyak menghasilkan interaksi. Oleh karena itu, literasi digital berarti membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, memeriksa sumbernya, serta mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Kemampuan ini merupakan bentuk pengendalian diri yang sangat dibutuhkan agar teknologi tetap menjadi sarana membangun kebaikan, bukan memperbesar konflik.

Melalui Lensa Spiritualitas, Islam telah memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai etika menyampaikan informasi. Allah Swt. berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun)..." (QS. Al-Hujurat [49]: 6). Rasulullah ï·º juga bersabda, "Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar." (HR. Muslim No. 5). Ajaran tersebut mengingatkan bahwa setiap informasi yang kita sebarkan adalah amanah. Menahan diri dari menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya bukan hanya bentuk kecerdasan, tetapi juga wujud ketakwaan dan penghormatan terhadap martabat sesama manusia.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan nasional. Melalui Lensa Pedagogi, Profil Pelajar Pancasila menempatkan dimensi Bernalar Kritis sebagai bekal penting agar peserta didik mampu memperoleh, mengolah, dan mengevaluasi informasi secara objektif. Sementara itu, melalui Lensa Ekologi, ruang digital dapat dipandang sebagai ekosistem informasi yang harus dijaga kebersihannya. UNESCO melalui Global Media and Information Literacy Assessment Framework (2023) menegaskan bahwa masyarakat dengan tingkat literasi media yang baik cenderung memiliki kepercayaan sosial dan kohesi masyarakat yang lebih kuat. Sebagaimana kita menjaga lingkungan dari pencemaran, ruang digital pun perlu dijaga dari pencemaran informasi yang merusak kehidupan bersama.

Pada akhirnya, literasi digital bukan diukur dari seberapa mahir seseorang menggunakan teknologi, melainkan dari seberapa bijaksana ia menggunakannya. Teknologi akan selalu berkembang, tetapi nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati tetap menjadi fondasi utama peradaban. Oleh karena itu, pertanyaan yang patut kita renungkan bukanlah, "Apakah informasi ini menarik untuk dibagikan?", melainkan, "Apakah informasi ini benar, bermanfaat, dan akan membawa kebaikan bagi orang lain?" Ketika kecerdasan berpadu dengan akhlak, ruang digital akan menjadi tempat yang lebih manusiawi bagi semua.

Namun, menggunakan teknologi secara bijaksana tidak hanya berkaitan dengan informasi yang kita konsumsi dan sebarkan. Kita juga perlu belajar mengelola hubungan dengan teknologi itu sendiri agar tidak kehilangan kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Mengapa berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital justru menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah kehidupan? Pertanyaan tersebut akan kita bahas pada artikel berikutnya, "Istirahat Itu Ibadah: Menemukan Kembali Diri di Tengah Dunia yang Tak Pernah Tidur."

Sumber:

Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Hujurat (49): 6. Terjemahan Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/49?from=6&to=6
Imam Muslim. (w. 261 H). Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Shilah, No. 5. Verifikasi via: https://dorar.net/hadith
UNESCO. (2023). Global Media and Information Literacy Assessment Framework. Paris. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000386785
Lee, S., & Kim, J. (2025). Misinformation Exposure and Psychological Well-being: The Role of Critical Filtering. Computers in Human Behavior, 162, 107-122. https://doi.org/10.1016/j.chb.2025.107122
Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2025). Laporan Tahunan Penanganan Konten Negatif dan Indeks Kepercayaan Publik. Jakarta. https://kominfo.go.id
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek. (2022). Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta. https://guru.kemendikdasmen.go.id
Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. PublicAffairs.
World Economic Forum. (2024). Global Risks Report 2024: The Role of Digital Literacy in Mitigating Disinformation. Geneva. https://www.weforum.org/publications/global-risks-report-2024/

Posting Komentar